HERMES CAFE #1: OPEN

Sahabatku, Tasya, berkata padaku bahwa di manapun engkau duduk, selalu nikmati meja dan bangkumu, suatu ketika cinta akan datang menyapamu. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk. Aku tak berani menyanggahnya karena Tasya telah membuktikan perkataannya itu.

Si beruntung, Tasya memang sedang berbahagia. Dia telah menemukan cintanya. Pacar barunya adalah vokalis band yang saban weekend manggung di café langganan Tasya, namanya entah F. Nugroho atau C. Handoyo, pokoknya tidak bakal meleset dari dua nama itu. Aku lupa. Aku akan mendadak terkena virus kura-kura stupido zara-man yang menyebabkan ingatanku benar-benar turun drastis di level paling kritis jika berhadapan dengan dua nama yang mirip dan sering diperbincangkan namun belum terlalu ku kenal. Namun untuk kali ini aku yakin tidak akan membuat kesalahan, salah satu dari dua nama itu pasti pacar Tasya, sedangkan nama yang lainnya sepertinya nama sopir pribadi keluarga Tasya!

YAHA! Aku akan mencoba menghubungi Tasya untuk memastikannya karena aku tidak ingin ada pihak yang merasa dirugikan.

“Tasya, emang bener gitu ya?”. Aku masih berusaha mencerna perkataan Si Beruntung itu sambil menikmati suasana café bergaya tempo dulu. Hermes Café, begitu nama yang terpampang di atas pintu masuk bangunan bergaya art deco itu.

Jika aku melihat Tasya, maka aku melihat bahwa cinta sanggup datang di ‘bangku’ favoritnya, sedangkan jika aku melihat diriku sendiri, maka aku melihat bahwa keberuntungan itu memang tergantung dengan amal ibadah dan wajah! Selama lebih dari satu jam nongkrong di Hermes, hanya ada satu orang yang sangat baik hati menghampiriku dan mengantarkan secangkir kopi jawa hangat untukku serta menjelaskan keistimewaan kopi jawa yang merupakan minuman favorit di Hermes Café. Di atas saku kemeja orang yang memberiku pelayanan prima itu tertulis sebuah nama, Alvin, dan tepat di bawah nama itu terdapat sebuah kata yang tertulis dalam huruf capital, “TRAINING”.

Menurut keterangan dari Si Training, kopi jawa adalah kopi terbaik di dunia! Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Pulau Jawa sangat oocok untuk budidaya kopi, bahkan jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin dan Afrika. Sehingga tidak heran jika Alfred Russel Wallace disebutkan sempat mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna dan memuji sistem budidaya kopi dan teh yang tetap dipertahankan dalam sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Aku hanya bisa manggut-manggut sambil menyeruput kopi jawa hangat itu. “Tak dapat cinta, ilmu pun tak apalah”, pikirku sambil nyengir kuda. Karena aku terlihat begitu menikmati, Si Training melanjutkan dongengnya.

“Sayangnya saat ini banyak pengusaha kopi jawa yang hanya mengejar omzet semata tanpa memperdulikan mutu dan kualitas. Kopi jawa terbaik hanya bisa dipanen setahun sekali. Itupun biji kopi masih harus disimpan selama lima tahun untuk kopi jawa jenis robusta dan delapan tahun untuk kopi jawa jenis Arabica, lalu kemudian biji kopi tersebut diproses demi mendapatkan rasa terbaik. Memasak biji kopi jawa pun harus menggunakan kayu bakar dari pohon karet lalu disangrai di dalam sebuah wadah berbentuk globe. “

“KAMPRET! Bagaimana cara dia menghafal semua informasi tadi yak?”

Setelah Si Training berlalu, aku berusaha menikmati bangku seperti apa yang telah dikatakan Tasya, cukup sedetik aku merasa nikmat, selebihnya aku merasa begitu tersiksa. Pantatku terasa panas. Telingaku pun kompakan ikutan panas gara-gara ada sekumpulan genk berisik, namun bukan banci, melainkan genk musuhnya banci alias wanita asli bukan wanita hasil potong alat kelamin.

Apabila sahabatku yang lain, Faizal, bermata jeli dan ekstra sehat sehingga bisa menemukan lubang surga dunia lalu melihat dengan mata telanjang keberadaan perempuan-perempuan telanjang yang sedang berada di kamar mandi, maka aku sanggup memperlebar telingaku sehingga sanggup menangkap pembicaraan orang di sekelilingku dengan jelas, termasuk obrolan ke enam anggota genk berisik yang bahkan aku sudah hafal nama panggilan masing-masing dari mereka, mulai dari Asiah, Luckty, Galuh, Mychan, Dudu dan yang paling kecil bernama Pia, sepertinya dia masih belum layak mempunyai KTP.

Lantas aku pun juga mendengar salah satu dari enam anggota genk berisik itu berbisik kepada yang lain, “arah jam enam gue lumayan lucu!”, lalu diikuti lirikan demi lirikan ke arah ku. Aku langsung merasa seperti bintang sinetron season Ramadhan yang dipuja-puja banyak wanita sholehah dan ibu-ibu pengajian. PLAK!

“C’mon girls, bunuhlah gengsi kalian dan sambutlah aku, Dedo!!’, seru ku dalam hati sok kegantengan

GUK! Begitu bunyi sms dari Faizal membuyarkan konsentrasi.
“Lima menit lagi sampe Hermes”.

Faizal adalah salah satu dari dua orang sahabatku. Sahabatku yang lain tentu saja Tasya. Jika bicara tentang Si Kurus Bernafsu gedhe ini maka lain Tasya, lain Faizal, sahabat kurusku ini hobi sekali mengintip. Pacar terakhirnya adalah korbannya sendiri, seorang janda tanpa anak dengan body bohai semlohai mulus tanpa tergores. Menurut pengakuannya, buah dada si janda kembang itu siap diekspor saking berkualitasnya. PLAK!

Si kurus bernafsu besar itu tinggal di pemukiman padat penduduk tak begitu jauh dari Hermes Café di Kawasan Wisata Kota Tua.. Saban jam enam pagi dan enam sore, dia hobi nongkrong di toilet rame-rame yang dibikin engkongnya untuk para anak kosan. Sambil berpura-pura ingin mandi atau kencing, Faizal lalu melakukan aksinya, termasuk ketika dia ingin mengintip target utamanya, Si Janda Kembang! Perkenalan Faizal dengan Si Janda Kembang diawali dengan insiden Kecoak. Suatu pagi, Faizal melakukan aksi rutinnya, namun sebelum berhasil melakukan aksinya, ternyata Si Janda Kembang berteriak-teriak erotis, eh histeris. KECOAK!! Si Janda Kembang dengan berbalutkan handuk berlari ke luar bilik kamar mandi. Dengan segenap jiwa raga, Faizal lalu menjadi pahlawan kepagian untuk melawan kecoak demi sebuah buah semangka segar dan berisi. Sejak saat itulah mereka semakin dekat, dekat dan lebih dekat!

GUK GUK!! Faizal mencoba misscal untuk mengetahui posisiku. Dia datang bersama seorang laki-laki bermuka sales. Rumah Faizal yang hanya satu jepretan tali be-ha milik Si Janda Kembang dari Hermes Café membuat Faizal benar-benar sampai di depan mataku tidak lebih dari lima menit. Inilah alasanku memilih Hermes sebagai tempat pertemuan paling pas dengan Faizal yang doyan ngarit.

“Halo Dedo Madildo!! Kenalin teman gue, Dan Sapar!”

“Mau jualan apa, mas?”, ucapku sambil berjabat tangan dan cengingisan .

“Gak sopan lo. PLETHAK!!”

Tombol speaker milik Faizal yang sudah tak berfungsi lagi itu telah membuat genk berisik tadi menengok berjamaah ke meja kita.

“So, lantas siapa Mas Dan Sapar ini, men?”

“Sebelumnya perkenalkan nama saya Dan Sapar, saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang bergerak di bidang air therapy”

“ MLM ya?”, potongku cepat sebelum didahului bajaj lewat..

Dansapar hanya tersenyum dan Faizal terlihat bingung melihat kejeniusanku.

“Ternyata elo udah makin pintar, men! Kemarin dapat rangking berapa? Haha”

“KAMPRET KUCRIT LO!”

“Boleh saya lanjutkan, mas De .. Do. Benar kan? Maaf saya takut salah manggil saja”

“Ntar dulu deh, mas! Saya Potong dulu. Sebelumnya saya minya maaf, saya tidak butuh keuntungan yang dijanjikan dengan nominal sekian milyar serta bisa keliling luar angkasa pun dari usaha MLM air therapy milik Mas Dan Sapar. Saat ini, saya sedang butuh PACAR, sedang butuh CINTA!”, ungkap ku dengan bersemangat dan berapi-api.

Muka Dan Sapar terlihat sedikit mengkerut. Dia telah mencoba mengawali pembicaraan lagi untuk menawarkan produknya, namun selalu aku potong terlebih dahulu. Sebenarnya aku ini adalah korban pertamanya, namun ternyata dia lah yang menjadi korban dariku.

“Mas Dan jualan cinta gak?”, tambah ku lagi dengan basa basi

“MLM cinta? Lo kira Makcomblang!”, sahut Faizal.

“Gue kira kepanjangan MLM itu masih tetap Makcomblang Level Marketing!”

HAHAHAHA. Aku dan Faizal tertawa lebar untuk merayakan kegaringnku sendiri hingga dipelototin Manajer Hermes Café, Mbak Tiara, yang juga seniornya Tasya di kampus. Sedangkan Dan Sapar masih terlihat tenang dengan penuh wibawa sales, sepertinya dia telah sadar bahwa satu prospek gagal bukanlah sebuah kendala yang berarti karena penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa sehingga masih banyak kesempatan..

“Dari dahulu kepanjangannya tetap sama, Multi Level Marketing!!”, kata Dan Sapar menimpali kegaringanku dengan memelas.

“Lagian, Saya lagi butuh diprospek oleh agent Makcomlang Level Marketing yang paling top untuk bisa mendapatkan PACAR, bukan oleh agen MLM air conditioner!”, ucapku dengan tegas bersamaan dengan mendekatnya genk berisik yang lewat di belakang kursi ku untuk menuju kasir dan mereka memandang ilfil ke arahku.

DEZINK!

PLAK!!! Itulah sebabnya aku lebih suka berjalan dan tidak terlalu suka nongkrong, aku lebih suka mencari lalu menemukan, bukan menanti, mengamati lalu menghampiri. Oleh karena itu, aku pun akan malas untuk sekedar duduk-duduk membunuh waktu dan memperpendek nyawa di café, EIITS, mungkin akan ada pengecualian untuk Hermes Café, di mana sore ini aku telah menemukan “Hermes-ku”.

==================================

Written By: Danang Saparudin (Dansapar)

Comments
One Response to “HERMES CAFE #1: OPEN”
  1. winda says:

    wuahhhhhh seruuuu….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: