HERMES CAFE #11 : Left Is Right !

the_power_ends_hands_I_by_dcamacho

Aku sebenarnya tidak suka dengan pekerjaan ini, pekerjaan mengantar. Aku memang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama di Kampungku dulu, tapi aku bangga dengan itu karena teman-temanku yang lain hanya pernah merasakan memakai Seragam Putih Merah. Walaupun aku kalah dengan Kakakku yang berhasil mendapatkan gelar Sarjana dan bahkan sekarang sudah menjadi kaya raya, cuihh, dasar anak kesayangan Ayah dan Ibu.
Tiga bulan yang lalu selepas aku keluar dari penjara ‘atasan’ku yang baru memerintahkan untuk mendaftar sebagai pekerja dirumah mewah bilangan Menteng, dengan kuasanya yang memiliki teman-teman yang berkuasa juga, aku mengantongi Ijazah palsu Sekolah Menengah Atas, yah, lumayan, mendapatkan Ijazah dengan gratis, walaupun aku harus membayar dengan resiko tinggi. Dan berkat Ijazah itu pun akhirnya aku diterima bekerja dirumah itu dan langusng mendapatkan imbalan dari ‘atasan’ku.

Aku memang sudah menjadi orang kepercayaan nomor dua oleh ‘atasan’ku untuk melaksanakan ambisinya merubah Hermes Cafe yang terkenal itu, dan tugasku adalah memata-matai orang yang kemungkinan dapat menghancurkan ambisi ‘atasan’ku itu. Mungkin istilah yang tepat untukku adalah orang TANGAN KIRI, karena sebutan TANGAN KANAN dipakai oleh orang kepercayaan nomor satu, yang sialnya bukan aku, HUH!

Ada yang salah dengan Chicko, bisa kamu tolong bereskan dia ? gertak sedikit dulu, mungkin akan mengembalikan loyalitasnya kepada kita, dia sudah terlalu banyak tahu tentang rencana saya.

Sudah kesekian kali aku membaca pesan singkat itu untuk memastikan kebenaran tugas itu. Aku bukanlah orang yang banyak bertanya, yang penting aku dapat imbalan dari tugas yang aku kerjakan.

“Pak, saya nanti di drop aja di TVone, Bapak tolong anterin Chicko ke Hermes Cafe yah, dia mau ketemu teman-temannya disana, nanti Bapak jemput saya lagi, saya akan hubungi Bapak !”, majikanku, Tasya, memberikan perintah yang tidak mungkin aku tolak. Aku hanya mengangguk, selama tiga bulan ini aku sudah hafal benar kegiatan dia dari mulai promo sampai mengantarkan pacarnya yang aku tahu cuma numpang beken saja, agar Band Indie nya juga bisa masuk ke lebel besar.

***

Majikanku yang cantik itu pun turun di salah satu stasiun TV swasta untuk mempromosikan single terbarunya, dan akhirnya aku bisa berbicara berdua dengan anak sialan ini.

“Chicko, kenapa kamu mundur dari rencana semula ?”

Chicko yang dari tadi sudah salah tingkah sejak Tasya turun dari mobil pun mulai kelihatan gugup karena langsung aku tembak dengan pertanyaan yang memang harus dijawab olehnya.

“Karena sekarang saya benar-benar mencintai Tasya !”

“Cinta ? Tahu apa kamu tentang cinta ? Jalankan saja peranmu sebagai pacar Tasya yang hanya pura-pura. Kamu sudah dibayar dan Band kampunganmu itu pun sudah mulai dikenal, kamu harus tetap pada rencana semula karena apa yang kamu inginkan sudah hampir tercapai !”, aku memberhentian mobil itu tepat ditempat yang sama sekali tidak ada orang. “TURUN !”

Anak Band itu pun tanpa kuminta dua kali keluar dari mobil, aku pun juga turun sambil mengambil sebilah pisau yang selalu kubawa dibawah tempat duduk kemudi mobil ini.

“Kalo sampe orang-orang tau tentang masalah ini, gwe gak segan-segan jadi Malaikat Izrail pribadi loe !”, kataku sambil mengarahkan pisau itu kearah perutnya, tapi karena dia ketakutan dia malah bergerak, dasar anak bodoh, pisau ini malah melukai pergelangan tangannya.

“ARRGGGHHH !”

“Yah, gwe gak bermaksud untuk itu, tapi sebagai DP boleh juga, PATUHI PERINTAH !”, aku pun meninggalkannya dipinggir jalan, aku mengemudikan mobil kearah TVone lagi, menunggu majikanku selesai dengan kegiatannya.

***

Saya sudah memberikan dia peringatan !

Pesan singkat itu pun delivered, aku menunggu balasan sambil menikmati sebatang Djarum Super. Aku hanya menjalankan perintah, aku tidak mau banyak bertanya sepanjang ada imbalannya. Penjara tidak pernah membuatku jera, karena disana adalah surga bagi dunia, disanalah dimulai semuanya, pekerjaanku memang sebagai orang jahat. Tapi aku suka, karena dengan itu dunia berjalan dengan seimbang, hitam dan putih, baik dan buruk.

BAGUS, saya sangat senang dengan hasil pekerjaanmu, awasi terus Tasya dan Chicko. Oh ya, keponakanmu yang pegawai Training ku itu mungkin bisa direkrut juga. Ingin membalas dendam kepada Ayah nya yang menjebloskan kamu kepenjara kan ? Inilah saatnya, Fajar !

Ahh, benar juga. Aku hampir lupa dengan Alvin, keponakanku yang meminta pekerjaan karena ingin membuktikan kepada Ayahnya –sekaligus Kakakku yang sialan itu- bahwa dia bisa mendapatkan penghasilan sendiri saat aku menunjungi rumahnya dengan berbasa-basi bahwa aku sudah kembali ke jalan yang benar. Hmm, mungkin dia bisa menggantikan Chicko yang mulai bertindak diluar jalur. Baiklah, aku pikirkan nanti.

Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..

“Halo, Mbak Tasya !”, aku membuang Djarum Superku sambil mengangkat sambungan telepon genggamku.

“Oh, iya iya, saya sudah di TVone kok Mbak !”

Setelah Tasya mengucapkan terima kasih dan mematikan sambungan telepon itu, aku pun meletakkan handphoneku lagi di kantong kemejaku.

Si bodoh Chicko mungkin dulu adalah TANGAN KANAN ‘atasan’ku,

tapi sekarang? Oh yeah,  left is right !

============================================================

By : Alvin Agastia Zirtaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: