Hermes Cafe #17 : The Real Chicko

Namaku Chicko. Chicko Marvian.

Aku bukanlah Chicko Handoyo yang merupakan anggota band The Monash yang terkenal itu. Juga bukanlah pacar Tasya, brand ambassador dari Cafe Hermes yang mulai kucintai ini.

Aku hanya Chicko. Chiko yang jatuh cinta dengan Tasya. Tapi karena cintaku dengan dirinya lah, aku
terjebak disituasi ini.

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Chicko Handoyo, sang vokalis itu. Aku ingat. Di tempat ini. Di cafe Hermes. Dia sedang berbicara dengan wanita mungil dengan sasak dan sepatu berhak
tinggi. Wanita bernama Tiara itu kukenal karena dia adalah mantan istri bosku.

“Chicko!! Ah, akhirnya kau datang juga” Sapa Tiara ketika melihatku masuk kedalam cafe.

“Perkenalkan ini Chicko Handoyo, keponakanku”

Aku berjabatan tangan dengan pria tinggi itu. Sejenak kusadari, baik tinggi badan dan bentuk wajahku dengan dirinya hampir sama. Mungkin jika kami jalan bersama ditengah jalan akan dikira kaka beradik, atau bahkan kembar.

Kami bertiga kemudian duduk di salah satu meja bundar dekat patung Hermes yang terpajang ditengah cafe.

“Saya mau minta tolong” ucap Tiara menatapku tajam

Aku jengah dengan tatapan itu. Aku tidak pernah suka cara bicaranya yang seperti menagih hutang kepadaku. AKu tahu bahwa aku berhutang banyak kepadanya. Tapi itukan dahulu ketika dirinya masih menikah dengan Pak Endik. Apa jangan-jangan karena dia sudah bercerai, maka dia mulai menagih hutangku?

Aku mengangguk pelan. “Apa, Bu?”

“Saya ingin Dik Chicko menggantikan Chicko” ucapnya sambil menepuk pelan bahu Chicko yang
duduk disebelahnya.

“Maksud ibu?” saya masih belum mengerti

“Saya mempunyai rencana besar untuk mengubah cafe tua membosankan ini menjadi sebuah cafe yang lebih modern. Dan semua itu belum bisa kulakukan karena tiba-tiba ada seorang gadis bernama Tasya yang mengusulkan ke pemda Jakarta agar cafe ini menjadi objek budaya.”

Wanita dihadapanku menyalakan batang rokoknya dan mulai menghisapnya perlahan

“Dan aku meminta Chicko-ku ini untuk mengurus Tasya. Tapi ternyata keadaan semakin bertambah menjadi… rumit”

Pria dengan tindikan anting di telinga kirinya tersenyum sedih. Senyuman bersalah.

“Untuk lebih jelasnya, biar Chicko yang menjelaskan” Tiara melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Saya ada janji dengan seseorang beberapa menit lagi”

Wanita itu bangkit dan berdiri. Asap rokoknya ia kepul keatas mengikuti tinggi sasakannya.

“Ingat, hutangmu kepada saya cukup banyak. Dan saya tidak mau dik Chicko menghancurkan rencana saya, seperti…”

Ia menatap pria dihadapanku dengan sinis. TIara tidak melanjutkan ucapannya, ia langsung berbalik meninggalkanku dan kembaranku, berdua.

Drttt Drttt Drttt Drttt

Sebuah SMS memecahkan lamunanku dihadapan layar gelap laptop yang sedari tadi kutatap. No nya tidak kukenal.

Aku tahu kamu bukan Chicko ku. Aku tahu semua. Jika tidak ingin semua ini berakhir sia-sia, temui aku di belakang cafe ini. Emmy

Spontan aku langsung menatap meja dihadapanku yang penuh dengan wanita itu. Emmy. Kenapa aku bisa melupakannya? Dialah adalah salah satu penghalang dari semua rencana yang telah kususun rapih ini

***

Aku mengubah segalanya. Merubah gaya rambutku, gaya berpakaianku juga harus menurunkan beberapa berat tubuhku. Demi sebuah bayaran hutang, aku harus menyamar menjadi Chicko Handoyo. Chicko Handoyo yang bodoh yang tidak bisa masuk kedalam perusahaan Asmabrahmata, perusahan keluarga milik keluarga Tasya.

Semua hampir tertipu dengan perubahanku. Termasuk dengan Tasya, wanita impianku. Tapi semua itu hampir berantakan ketika Fajar, salah satu antek Tiara cemburu kepada Chicko dan mau membunuh Chicko. Seharusnya dia membunuh Chicko, tapi malah aku yang kena

“APA?!!? TOLOL!!!” teriak Chicko Handoyo ketika kukatakan bahwa tanganku terluka akibat Fajar.

Sial! Gw dikatakan tolol oleh dirinya.

“Lo tahu berapa tangan gw ini?” Teriaknya sambil memperlihatkan tangannya ke wajah gw. “JUTAAN!!”

Aku meringis. Maksudnya apa tangannya berharga jutaan? Kalo bukan karena diriku yang menggantikan dirinya tampil sebagai gitaris dan vokalis di band indie ga jelasnya itu, tidak akan mungkin dia dikenal oleh label musik. Terlebih pengaruh nama Tasya, yang diramalkan the next Christine Hakim di layar perak, adalah salah satu faktor bandnya terkenal.

“lo tadi kemana abis Fajar nusuk lo?”

“Ke Hermes Cafe”

“BEGOOO!!!” teriak Chicko lagi “Trus lo ketemu Tante Tiara?”

Tante Tiara? Oya ya. Aku lupa. Chicko itu kan sudah dianggap Tiara sebagai keponakannya setelah kedua orang tuanya pergi ninggalin dia. Mungkin orang tuanya sendiri tidak tahan berdekatan dengan Chicko yang haus akan segalanya, haus harta dan kepopuleran. Aku heran mengapa Tasya betah pacaran dengannya? Ataukah jangan-jangan Tasya…

Aku menggeleng. “Dia tidak ada tadi”

Chicko menghela nafas lega. “Di Cafe ngga ketemu sapa-sapa kan?”

“Tadi ga sengaja ketemu Emmy”

“APA?!? SHIT!!! That Bitch again!?!? DAMN!!!”

“Dia mengenaliku dan…” aku menghentikan ucapanku dan melihat Chicko yang mondar mandir dihadapanku. “Dia mengancam membocorkan penyamaranku”

“Stupid!!” bentak Chicko

“Gw ngga inget dia. Sekarang dia berubah dari pertama kali gw ketemu dia”

“Sudahlah!!! Untuk masalah dia, ntar gw pikirin” Chicko berhenti mondar mandir di ruang tamu apartemennya. Apartemen yang dihadiahkan Tasya kepadanya. Apartemen mewah dengan view menghadap ke arah monas.

Chicko mengambil beberapa lembar seratusan ribu dari dompetnya dan memberikan kepadaku.

“Ini buat pengobatan tanganmu. Cepat sembuhkan tanganmu. Gw ngga mau lo ntar ngga bisa pentas dan kerja di kantor bokapnya tasya ngegantiin gw”

Aku menerima uang itu dari tangannya dan bangkit dari sofa menuju pintu apartemen. Tapi betapa kagetnya diriku ketika melihat wanita mungil yang telah berada di depan pintu apartemen. Di tangan kanannya ia memegang pistol. Pistol itu langsung diarahkan ke wajahku.

“Masuk” ucapnya yang nyaris seperti bisikan

Aku mengikuti perintahnya dan kembali masuk ke apartemen itu. Wanita itu langsung menutup pintu apartemen dan menguncinya dari dalam. Ia bersembunyi di belakang tubuhku, dan pistolnya menempel di punggungku. Ia menggiringku menuju Chicko yang sedang menuangkan bir kedalam gelasnya.

“Ngapain masih disini lo? Uangnya kan udah gw kasih? Ada yang ketinggalan?” ucap Chiko ketika menyadari kehadiranku.

Aku terdiam.

Wanita yang bersembunyi dibelakangku keluar dan langsung menembakkan pistolnya tepat di kepala Chiko. Tidak terdengar letusan keras. sepertinya wanita itu memakai peredam untuk pistolnya. Pistol itu kembali mengarah kediriku. Wanita itu menyuruhku untuk mengecek keadaan chicko.

“Ia sudah mati” ucapku bergetar. Ketakutan dengan dampak pembunuhan ini

Wanita itu tersenyum.

“Bagus!! Dengan ini, dirimu bisa 100% menjadi Chicko Handoyo. Vokalis Band The Monash, dan Pacar Tasya Sudirman”

================================================

Written By : Astrid Dewi Zulkarnain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: