HERMES CAFE #18 – In A Rush

Aku baru saja membuka pintu saat Diandra dan Sultan berlari menghampiriku sambil membawa kertas dan pinsil warna ditangan masing-masing.

”Ayaaaahh…”
Mereka bersamaan menubrukku dan memeluk kakiku. Aku berjongkok memeluk mereka

”Ayah lihat gambarku”, kata Diandra sambil menyorongkan kertas gambarnya. Tergambar bunga matahari besar dengan warna kuning dominan. ”Ini bunga kesayangan Bunda, kan Ayah..”

”Ayah juga lihat gambarku”, giliran Sultan memamerkan hasil gambarnya. Gambar pesawat terbang. ”Aku mau menjadi Pilot, biar bisa mencari Bunda”

Aku tersenyum sambil mengecup kedua belah pipi anak-anakku. Mereka butuh Bunda nya, bukan hanya mereka, tapi juga aku. ”Ayah mandi dulu ya, nanti kita makan malam bersama dan shalat juga berdoa untuk Bunda” jawabku sambil berdiri

Diandra dan Sultan berlarian meninggalkan aku yang tiba-tiba merasa gamang dan melayang seperti kehilangan separuh nyawaku. Aku ingat Tiara yang selalu menyambutku setiap aku pulang dari kantor. Menyiapkan segala keperluanku, mulai untuk mandi sampai kopi dan koranku, tapi tidak untuk rokok. Dia benci akan benda yang satu itu.

Aku memasuki kamar berukuran besar dilantai atas, jendela ukuran besar masih terbuka lebar. Bibi pasti lupa menutupnya, ini sudah jam 17:30. Ah biasanya semuanya beres kalau ada Tiara. Aku menepuk jidatku, betapa nama Tiara akhir2ini begitu mengangguku, sedangkan pernikahanku dengan Eni akan berlangsung tahun depan.

Jendela besar dengan gordin tipis warna putih menyapu lantai berkibar2 tertiup angin sore, menjelang magrib. Balkon kayu dibaliknya tampak basah bekas air hujan. Tanaman dalam pot pun masih meneteskan air dan jatuh ke lantai kayu.
Aku keluar dan duduk di kursi malas yang biasa aku duduk berdua dengan Tiara, menghadap belakang rumah. Waktu yang paling kami suka adalah pagi setelah subuh bersama dan sore hari menunggu magrib. Saat ini rasa lengang dan sepi. Halaman belakang tampak Bibi merapikan benda2 kecil mainan Diandra dan Sultan. Kolam renang kecil tampak biru, tenang. Beberapa daun kering tampak dipermukaan kolam.

***

”Abang, mau pulang ya. Nebeng boleh gak” wajah gadis didepanku tampak memelas. Tumpukan buku ditangan dan ransel di punggungnya semakin membuat wajah manis nya penuh keringat.

”Iya, kamu gak papa, nebeng naik motor?” kataku sambil mengingat-ingat wajahnya. Siapa dia dan kenapa mau nebeng motorku. Kebetulan aku memang rencana mau langsung pulang ke kost.

”Gak papa Bang, yang penting bisa nebeng” katanya sambil duduk dibelakangku. ”Helm nya mana, bang?”

Aku meyerahkan helm biru metalik dan memutar badanku menghadap dia yang duduk dibelakangku. ”Kamu angkatan berapa sih, kok bisa tiba-tiba mau nebeng sama aku”

”Aku 2 angkatan dibawah Abang” jawabnya jenaka. Mata berputar-putar sambil tersernyum. ”Ayo cepat kita pulang”

Aku starter motorku dan mengambil arah ke kost ku. Loh aku kan belum tahu arah dia pulang dan siapa namanya. Kenapa aku jadi linglung begini ya.

”Bang, stop….kiri…kiri…” gadis di belakangku memukul2 punggungku untuk berhenti. Perjalanan ke kost ku tinggal beberapa puluh meter lagi. Aku meminggirkan motorku dan dengan sekali loncart, gadis itu sudah berdiri disampingku.

”Thanks ya Bang udah nebeng. Besok boleh nebeng lagi gak..? Abang besok ada kuliah Teknik Analisa II kan?” katanya sambil memiringkan kepalanya. Lucu.
Hah, darimana dia tahu jadwalku..? Gadis ini siapa ya. Walaupun kampus lebih banyak pria nya, tapi kenapa gadis ini belum pernah aku lihat ya.

”Besok aku tidak masuk, aku ada rapat senat” jawabku.

”Huh, Abang sibuk terus” dia memukul ringan bahuku. ”Ok, aku pulang ya, rumahku tinggal sedikit lagi. Mau jalan kaki saja sore ini” jawab gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. ”Sampe ketemu lagi ya Bang”

Dan aku hanya terdiam dan masih bingung, siapa dia..?

**

Kejadian sore itu sudah lewat 2 minggu dan aku sudah lupa, kalau tidak aku lihat sosoknya di kantin pagi ini. Kali ini rambutnya di kuncir ekor kuda, tetap dengan tumpukan buku dan ransel dipunggung. Berjalan bergerombol memasuki kantin bersama 5 pria lainnya. Sepertinya teman 1 gank nya. Dia tampak menonjol bukan karena dia sendiri yang perempuan, tapi karena tawa dan sikapnya yang ringan dan santai.

Mereka duduk 2 meja di depanku, dan gadis itu duduk menghadapku. Hei, lupa kah dia padaku, sepertinya dia melihatku dan kenapa melengos saja.
Tiba-tiba salah satu dari laki-laki yang bersamanya berdiri dan melangkah ke arahku. Aku lihat gadis itu menatapku dan melambaikan tangannya.

Aku balas melambai dan bersiap2 pergi. Laki-laki yang menghampiriku, ternyata Reza, temanku di senat.
”Hai Bang, gabung dengan kita yuk di meja sana” katanya sambil menunjuk ke meja dimana dia datang tadi.

”Thanks. Aku di sini saja. Aku juga sudah selesai sarapan kok. Salam buat teman-temanmu ya”

”Ini Tiara yang mengundang Abang, dia ulang tahun hari ini”

”Tiara?” tanyaku sambil menoleh ke gadis itu yang ternyata masih menatapku.

”Iya, Tiara. Anak semester 5 Bang, satu fakultas dengan kita. Abang kemana ajha, gadis manis kok sampai terlewat. Hahahah ”Reza tertawa sambil menggandeng lenganku.

Aku melepas tangannya, menolak halus. ”Sorry, aku harus ke kantor Senat. Sampaikan terimakasihku pada Tiara” jawabku sambil menepuk bahu Reza.

Aku melangkah meninggalkan kantin. Tiara? Betul juga, kenapa aku bisa terlewat gadis manis ini ya. Aku ingat Rita, Rina, Sita, Eva, Mirna dan masih banyak gadis cantik lainnya. Mereka rajin datang ke kantor Senat dengan seribu alasan hanya untuk ketemu dengan ku. Ketua Senat pilihan mahasiswa dan dosen, mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur semester 9, sedang TA, penyandang beasiswa, ketua pecinta alam, penyandang sabuk hitam karate, pemain basket terbaik dan segudang prestasi lainnya.

Tapi Tiara..? Berapa lama aku melewati kehadirannya..? Kenapa aku bisa tidak tahu ada gadis manis seperti dia..? Lalu kenapa aku sekarang seperti menyesali, biasanya aku tidak berpikir sedikitpun tentang gadis-gadis cantik di kampus bahkan yang sering datang ke kantor senat itu.

Aku merutuki diriku sendiri menyadari sosok dan nama Tiara tiba-tiba memenuhi pikiranku.

================================================

Written By : Mutiara Hidayat (Tiara Yang Suka Oranye)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: