Hermes Cafe #19: Kesetimbangan yang Hilang

Drrettt..drrett.. ponselku bergetar di atas meja. Tangan kiriku sigap meraihnya, sedang yang kanan masih tetap sibuk memilah-milah lalu menyelipkan beberapa map dokumen terbaru diantara deretan map yang sudah ada lebih dulu di dalam tas.

“Ya… Luckt? Aku masih di kantor. Baru aja selesai rapat. Kalian sudah sampai?”
“Oke. Aku meluncur nih. Kasian Asiah kalo nunggu sendirian terlalu lama, Luckt.”
“Ya. Tadi pagi statusnya mellow gitu.”
“Oke. Sampai ketemu di sana. Kamu juga hati-hati di jalan ya, Luckt. Muach..muach..”

Bunyi panjang di hapeku menandai akhir pembicaraan. Kugeletakkan lagi hapeku di atas meja, meneruskan pekerjaanku membereskan meja yang penuh dengan kertas-kertas sketsa baru.

Drrettt..drrett.. ponselku bergetar lagi di atas meja.

“Hehehe. Pasti ada yang lupa?” tebakku. Dan kudengar suara tawa renyah berderai-derai di seberang. Luckty selalu begitu. Setiap kali telepon, yang dibahas selalu side topic-nya dulu, hingga yang pokok malah terlupakan. Ah, Grannie Luckty. Kau masih saja tak berubah, batinku sambil senyum-senyum sendiri.
“Belum Luckt… belum sempat kukerjakan. Besok aku masih ada deadline sih.”
“Okay Luckt. Minggu ini kuusahakan selesai, bok. Biar bisa dipasangkan sekalian sama tulisanku di blog sebagai data pendukung.”
“Wah..kalo soal sejarahnya, aku percayakan ke kamu atau Pia aja deh, Luckt.”
“Lah kan kamu pekerja dinas pariwisatanya hihihi….”
“Ya..ya…baiklah. Nanti ku suruh Pia aja yang ngambil ya. Muach.”

****

1 tahun yang lalu.

Aku telah jatuh cinta padamu.
Lebih tepatnya, aku telah jatuh cinta pada tulisan-tulisanmu. Kau yang begitu mahir meracik rasa dalam tiap tulisanmu dengan campuran sedikit aroma arsitektur, aroma yang sering kumunculkan di status facebookku saat ide lahir tapi aku masih terperangkap deadline. Terutama ketika aku terlibat desain Art Deco, proyek yang kau dampingi dengan misterius melalui ulasan inspiratif meski hanya lewat sepetak kisah.

Entah sejak kapan, namun tiap kali membacanya aku jadi merasa sangat dekat denganmu, seolah kau sedang ada di depanku, bicara padaku lewat baris-baris itu sambil menatap dalam-dalam ke bulatan manik mataku, mencoba menyelami sekeras apa dentuman tulisanmu itu di hatiku meski mati-matian, kuredamkan getarannya dari penglihatanmu, jauuhh..di dasar hatiku.

Tapi aku juga tak tahu bagaimana kau bisa menyelam sebegitu dalam ke palung endapan rasaku. Begitu banyak pertanyaan tentangmu, tapi tak juga kutemukan jawabannya. Hingga saat aku punya kesempatan on line denganmu, kucoba merentang kabel pembicaraan. Hanya sebaris dua baris saja kau gapai pertanyaanku. Setelah itu kau biarkan kosong mengisi kotak ‘chat’ kita.

Tak banyak informasi yang bisa kukorek tentangmu, kecuali pengakuanmu sendiri bahwa kau adalah Frappachino freak sejati. Dan aku terlalu gengsi aku menanyakan hal lain selain itu padamu. Bagiku, kau adalah lelaki misterius dengan seribu wajah cinta, menghantuiku yang hanya punya satu cinta. Itupun sudah kau retakkan.

****
Aku berjalan mendekat. Dari kejauhan, bangunan dua lantai itu tampak menyatu dengan gedung lainnya di lanskap Kota Tua. Katamu, konblok besar berukuran 50×100 cm itu mengakrabkan lantai pintu masuk café agar setara dengan jalanan di depannya. Lima pot besar berwarna merah bata, berisikan pohon bunga sakura yang berjejer zigzag di dekat pintu masuk itu juga seolah ingin memberi salam pada setiap orang yang memasuki café ini melalui dua daun pintu berujung setengah lingkaran atasnya, yang terbuka lebar itu.

Meskipun terbuka lebar, orang luar tidak bisa langsung melihat isi di dalam kafe karena tepat dua meter ke dalam dari pintu masuknya itu, menghadang sekat stain glass yang dipigura kayu bercat senada dengan daun pintunya, sehingga orang harus berbelok kanan atau kiri dulu untuk bisa menikmati nuansa Art Deco yang ditawarkan interior bangunan itu. Inilah alasan kenapa kau suka dengan tempat ini. PRIVACY. Di kaca itu tertulis kata “Hermes Cafe” besar-besar dengan tipe font Art Deco Stencil.
Cat merah bata mendominasi seluruh warna daun pintu itu, membuat si pintu tampak semakin anggun dinaungi kanopi merah menyala selebar pintu masuk. Sedangkan lengkungan-lengkungan Art Deco yang berada di atas kanopi, menjadikan pintu itu terlihat menjulang gagah.

Luckty bilang Hermes Café merupakan salah satu bangunan kategori B di Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan aroma kuno yang menyembul dengan hadirnya kolom besar di tembok kanan kiri pintu masuk. Seolah ingin menjaga privacy pengunjung Hermes Café itu tadi.

Hal ini didukung dengan penempatan jendela-jendela krepyak di dinding depan Hermes Café, baik di lantai 1 maupun lantai 2, yang memang pada “jaman dulu” digunakan untuk menghalau pandangan orang kedalam tapi masih tetap mengalirkan udara masuk, apalagi saat musim penghujan tiba.
Saat ini, pemasangan jendela krepyak ini diikuti dengan kaca permanen lebar sebagai akses pemandangan keluar. Berbeda dengan dulu, sekarang jendela krepyak hanya digunakan sebagai elemen asesoris saja.

Bangunan yang berdiri antara tahun 1805 dan 1850 ini dulu merupakan tempat tinggal seorang pejabat pemerintahan Belanda. Setelah itu, bangunan ini juga pernah dijadikan gudang, kantor, coffee shop, juga art gallery. Pada 1993, bangunan ini dibeli oleh seorang warga negara Australia bernama Graham James, yang saat ini menetap di Pulau Bali. Setelah renovasi, diskotek atau night club di lantai 1 dan fine dining di lantai 2 menjadi awal dimulainya “kehidupan baru” di tempat itu. Krisis moneter menjadi salah satu alasan pemilik menjualnya di 1997 dan dijadikan kafe oleh management Hermes Cafe sekarang.

Tak heran jika kemudian bangunan ini menjadi bangunan kategori B, yaitu cagar budaya yang bangunannya boleh dibongkar tapi bagian badan utama, struktur utama tidak boleh diubah. Hampir semua ruangan yang terdapat di Hermes Cafe masih menggunakan perlengkapan peninggalan pemiliknya di masa silam, termasuk patung Hermes yang menjadi pusat kafe. Ia berdiri di atas tabung marmer setinggi 100cm dengan satu kaki menjejak bola batu berdiameter kurang lebih 30 cm. Rata-rata perabot dan furnitur Hermes Café juga terbuat dari kayu jati Jawa yang diproduksi pada akhir abad ke-19.

****

Huuff…aku menghembuskan napas keras-keras. Lihatlah, kau begitu meracuniku dengan segala tulisanmu tentang gambaran kafe mungil ini. Dan aku harus rajin-rajin menghalau pikiran tentangmu jauh-jauh jika tak ingin karam oleh cintamu. Dan … ups, aku sudah sampai di depan Hermes Café.
Ah itu rupanya genk kecimpringanku, dalam formasi lengkap, ada Asiah, Astrid, Emmy, Dudu, Luckty dan aku. Janji ngumpul bareng di Hermes Café setiap Sabtu siang, adalah kebahagian yang masih tersisa padaku sejak kau bawa pergi hampir semua senyumku.

“Galuuuhh” teriak Luckty begitu melihatku mendekat. Dan semua menengok kearahku. Aku tersenyum kartun diiringi gesture dua tangan melambai-lambai terangkat ke udara seperti layaknya seorang caleg sedang orasi di hadapan ribuan pendukungnya.

Setelah peluk sana, peluk sini, cipika cipiki bersama, kami langsung melewati stain glass yang menjadi sekat luar dan dalam ruangan itu. Menuju ke meja kayu bundar, didekat patung Hermes, dengan kursi kayu balero yang biasa kami duduki dengan masih sambil tertawa dan membahas cerita-cerita yang belum tebagi satu pekan ini.

Kami sudah menempati kursi masing-masing, dan masih juga berisik.
Kami punya sudut pandang sendiri-sendiri untuk menikmati café dan seisinya. SEISINYA !
Termasuk lalu lalang pelayan berseragam orange, atau juga seperti mahkluk MARS, seperti seseorang yang berhasil kupetakan duduk seorang diri di pojok ruangan. Sepertinya dia sudah mabok kopi kurasa. Tapi kopinya bukan Frappachino. Tentu saja, karena dia bukan kau. Kenapa sih, kau selalu muncul di pikiranku di saat yang tidak tepat.

“Aku akan jelaskan ada apa dengan aku hari ini”
Asiah mengalihkan perhatianku dari lelaki itu dengan ucapan seriusnya. Tiba-tiba saja semua diam. Menunggu Asiah bicara, dan ketika dia ingin mulai bicara lagi, tiba-tiba saja …
“Sore mbak-mbak semua….”

DOENG!
Seorang waiter berseragam hitam putih dengan name tag ALVIN-TRAINEE memecah situasi yang mulai mengharu biru diantara kami.

“Silahkan ini menunya. Menu andalan kami adalah kopi jawa. Kopi Jawa merupakan kopi terbaik di dunia lho mbak-mbak…Ada yang tahu kenapa?Karena curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Pulau Jawa sangat cocok untuk budidaya kopi, bahkan jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin dan Afrika. Makanya sistem budidaya kopi dan teh dipertahankan dalam saat pemerintahan kolonial Hindia Belanda….”
“Cukup mas,” Asiah memotong penjelasan si Alvin dengan cepat. “Kita sudah tau apa yang ingin kita pesan, aku Hot Jasmine Tea”
“Hot Capuccino”
“Vanilla latte ″
“Cold Frappe”
“Ice Lemon Tea”
“Hot Chocolate”
Mas yang tadinya berkicau itu sekarang hanya terdiam sambil mencatat, karena kami selalu memesan seperti ini tanpa dikomando.
“Ada lagi mbak?”
Dan semua mengangkat tangan tanda TIDAK padanya.
Alvin pun beringsut meninggalkan meja kami

****
Begitu masuk ke Hermes Café, kau mungkin akan merasa di atas papan catur. Hanya bedanya hitam putih lantai kafe ini disusun selang seling melintang, laksana ketupat raksasa berukuran 50x50cm berderet-deret. Walaupun begitu, perasaanmu akan segera menghangat demi melihat ratusan pigura foto tertempel rapi di dinding tangga yang pegangannya juga berwarna merah ini.

Foto-foto itu membuat pengunjung kafe serasa di rumah sendiri. Ada foto artis-artis jaman dahulu, olahragawan, politikus, bahkan ada gambar presiden Sukarno dan RA Kartini yang kutangkap jelas dari tempat dudukku. Hmm…serasa masuk ke kehidupan yang lain saja. Begitulah dulu sempat kau tulis tentang kafe ini. Dan kenapa juga aku masih bisa ingat.

Oya, aku pernah nulis di wall facebookku, bahwa Art Deco adalah gaya yang sulit didefinisikan langgamnya dalam arsitektur, karena ia adalah perpaduan berbagai gaya dalam arsitektur, seperti Kubisme, Futurisme, juga konstruktivisme.

Namun kau dulu mengomentari, bahwa kunci Art Deco adalah bermain kesetimbangan dan kreatifitas dengan memberikan sentuhan lokal yang baru dalam gayanya. Yah, kau benar. Begitu asyiknya bermain dengan Art Deco denganmu, hingga aku lupa hatiku sudah condong kepadamu. Aku kehilangan kesetimbanganku sendiri. Hatiku patah. Mungkin nasibku tak jauh beda dengan lelaki yang telah mabuk kopi hingga 5 cangkir di meja pojok depan itu. Sama-sama kehilangan kesetimbangan.

Siapa dia, lelaki di sudut ruangan??
Ah,temukan dulu kesetimbanganmu, baru kau bisa melangkah lagi, bisik jiwaku yang mencari-cari kesetimbangan. Ingat Luh, kau harus segera menyelelesaikan misimu dengan Luckty.SEGERA.

================================================

Written By : Eliana Candra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: