HERMES CAFE #21: Angel and Demon

Di luar, bulan menampakkan dirinya penuh. Bulan purnama. Aku, aku kalah dibandingkan bulan. Ketika bulan dengan percaya dirinya bersinar di malam ini. Aku justru di sini, di sudut yang tak diketahui siapapun. Aku tenggelam bersama foto-foto yang terpigura dengan apik, fotoku dengan Chicko dan ditemani deraian air mata.

Malam ini malam minggu. Tapi aku merasa malam ini seperti malam-malam biasanya. Malam senin, malam selasa, malam rabu. Ah, apa bedanya malam-malam itu? Manusia saja yang membuatnya menjadi tampak berbeda. Toh, aku tetap sendiri. Aku tak bisa meraihnya, apalagi memeluknya. Sekarang, dengan memandangnya saja itu sudah cukup, sangat cukup.

Chicko..chicko..di manakah kamu..

Aku memandang bulan dari balik tirai jendela kamar. Bulan, aku iri padamu. Bolehkah aku hijrah ke bulan? Agar terlepas dari semua masalah ini.

Ini malam ke delapan tanpanya. Cuih, mengapa aku musti menghitungnya? Ini memang kesalahanku sendiri. Mengapa dulu aku mau berbagi dirinya untuk orang lain, dan demi kepentingan orang lain. Kepentingan Om Fajar.

Om Fajar. Teman papa ini yang mengasuhku dari kecil. Segala biaya hidupku berasal dari keringatnya selama ini. Wajar, jika sekarang saatnya aku berbalas budi atas segala sikapnya kepadaku. Dan itu tidak gratis. Itu harus dibayar mahal. Tepatnya, cintaku harus tergadaikan. Cintaku harus ditukar untuk memuaskan keinginannya.

Jika aku boleh memilih, setelah ditinggal papa dan mama yang tewas karena kecelakaan, aku lebih memilih menjadi gelandangan di jalanan. Tidak diasuh Om Fajar. Jadi aku tidak perlu bersusah payah mengembalikan semua ini.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Aku benci kata-kata itu. Kenyataannya, aku memang harus menelan bulat pepatah lama itu.

Om Fajar sudah menyeretku terlalu jauh dalam masalah ini. Aku muak. Aku benci. Aku sudah lelah dalam permainan ini. Aku ingin hidup tenang. Menikah dan membesarkan anak-anak yang lucu bersama suami yang kusayangi.

Ini memang salahku sendiri. Memang dari awal aku mau bermain dalam permainan kotor ini. Aku terjebak, tepatnya. Om Fajar butuh uang untuk menutupi segala hutang piutangnya selama ini. “Ini juga berkaitan dengan biaya hidupmu selama ini!”, katanya saat aku menanyakan mengapa aku harus terseret dalam masalah ini.

Om Fajar memberikan ide dengan setengah mengancam, “Jalan satu-satunya adalah suruh Chicko dekati Artasya, si Artis itu!”. Dan kenyataannya sekarang adalah Chicko benar-benar berpaling. Artasya tidak hanya cantik, dia ramah, dia pintar. Segala yang baik-baik menempel pada dirinya. Aku merasa tidak pantas membencinya. Dia bak malaikat. Berbeda sekali denganku. Aku adalah manusia berhati iblis. Aku begitu kotor. Kotor sekali.

“Emmy, gimana perkembangan Chicko?”, tanya Om Fajar. Kulihat di asbak, ini sudah batang yang kali ketujuh. Aku hapal dengan kebiasaannya, jika dia sudah menghabiskan lebih dari lima batang, itu tandanya dia dalam keadaan emosi level tinggi.

Aku menghela napas. Bagaimana aku menjawabnya. Beberapa waktu yang lalu, Mbak Tiara memarahiku. Aku sangat yakin, Om Fajar akan berbuat demikian, mungkin lebih.

“Jawab Emmy, kamu gak tuli kan?!?”, bentakan Om Fajar membuatku ingin menangis.

“Chicko..Chicko..gak mau lagi ikut permainan ini, Om!”, jawabku takut-takut.

“GOBLOK!!”, Om Fajar melempar asbak berisi puntungan-puntungan rokok ke arahku.

“Ampun, Om!!”, aku menyembah kakinya sambil menangis tersedu-sedu.

***

Kejadian itu masih segar di memoriku. Aku memang pengecut. Aku lari dari rumah Om Fajar. Aku juga lari dari keruwetan masalah ini. Sekarang, aku di sini. Walaupun tidak jadi hijrah ke bulan, setidaknya aku bebas sejenak dari Om Fajar.

Tok..tok..tok..

Ketukan itu membuyarkan lamunanku. Aku menghapus airmataku.

Aku membuka pintu kosanku. “Permisi mbak …”, tanya lelaki dihadapanku.

“Emmy. Panggil aja Emmy. Gak usah pake mbak.”, kulihat dia lebih tua dariku, sekitar tiga empat tahun di atasku.

“Oh, namanya Mbak Emmy..eh Emmy. Saya Aditya, tapi panggil aja Tingting. Saya anaknya pemilik kosan ini. Ibu nanya, udah makan belum? Soalnya dari kemaren Emmy gak keluar kamar.”, Ujar Aditya a.k.a Tingting sambil menatap wajahku yang pucat tanpa polesan apapun.

Tuhan. Tampaknya Kau tak hanya mengirimkan malaikat buat Chicko. Tapi Tuhan mengirimkan malaikat buatku. Aku yakin itu.

==================================

Written By: Luckty Giyan Sukarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: