HERMES CAFE #22: REBORN

“Sudah dapet, Do?”, tanya Tasya.

“Pastinya, donk!! Apa sih yang nggak bisa dilakuin Dedo”, jawabku menyombongkan diri.

“Trus?”

“Gila … Edan … Semua ucapan lo itu bener semua! Gue menemukan keberuntungan di bangku itu. Cinta pada pandangan pertama rasanya … Hmmm … melebihi cita rasa keharuman kopi jawa!!”, ujarku sambil sok memeragakan mencium aroma surga.

PLAK!!

“Bukan itu, Dildo!!”

“Lalu?”

“Info … Info …!! Kalo lo akhirnya nemu cewek di Hermes anggap aja itu bonus! Tapi bagaimana info nya?”

“Info apaan sih?”. Aku mendadak lupa dengan segala urusan dunia.

Hmm… Mungkin beginilah rasanya jatuh cinta itu. Tak ada yang lebih penting dari memikirkan senyum manisnya saat pertama kali berjumpa. Kiamat pun bukan masalah yang besar, apalagi kedatangan presiden Amerika!

“DILDO … Buat apa gue minta tolong lo buat nongkrong berlama-lama di Hermes Café kalo bukan untuk nyari informasi tentang manajer café itu!! Errr … “.

Sejenak aku masih bingung mengapa Tasya kayak butuh pembalut dalam waktu 1×24 detik!

Lalu televisi 14 inch di rumah ku menampilkan sosok ibu-ibu pejabat bersasak tinggi yang sedang mengunjungi korban banjir dan memakai tas LV, aku langsung ingat,

Mbak Ti!! Mbak-mbak bersasak tinggi!! Manajer Hermes Café!

“Beli Papa Bunz Ke Pasaraya, Ampun-ampun Tasya! Gue baru inget! Lo butuh informasi tentang Mbak Tiara dan Hermes Café kan?”

“Uda sejak sebelum Masehi gue nanyanya, Do!”

“Lebbbbbbbaaay!”

Tasya terkikik di ujung telepon.

“Habisnya elo malah ngomongin gebetan baru lo itu! Ini tugas penting tauk!”

“Eniwei, lo yakin kan sambungan ini aman?”, tanya ku.

“DILDOOOO … Keburu syuting nih! Sapa pula yang mau menyadap kita! HUH … Serius nih serius …”.

“Gue serius lagi! Mbak Tiara itu sepertinya bukan orang sembarangan. Sepanjang penyamaran gue di Hermes Café kayaknya beneran ada sesuatu yang direncanakan oleh Mbak Tiara itu!”

“Emang kemarin elo nyamar jadi Ariel Peter Pan ya, Do?”

“TASYAAA … Gue serius!”

Hihihi.

Kembali lagi ada rintihan suara tawa di ujung telepon. Tak seberapa lama Tasya kembali fokus pada masalah.

“Oke … Oke … Kan udah gue bilang kalo ada indikasi untuk menutup Hermes Café, eh … lebih tepatnya menghancurkan bangunan tua yang sekarang difungsikan sebagai café itu!”,

“Hmm … Kalo begitu sepertinya ambisi Mbak Tiara untuk menghancurkan bangunan tua itu setinggi sasakannya deh!”. Aku sedikit geli dan alhasil aku harus menahan tawa agar tidak disewotin Tasya lagi.

“Hahaha! Dasar, Dildo! Kok lo bisa menyimpulkan seperti itu, Do?”

Aku terdiam sejenak untuk mencari jawaban yang cukup masuk akal.

“FEELING!”.

Tapi kok sepertinya kurang masuk akal ya?

“Kesan pertama?”, tanya Tasya.

“Mungkin seperti itu kali. Ada aura hitam di balik sasakannya itu. Huahaha!!”.

Aku tertawa nyaring. “Eh, pa kabar dengan Chicko? Masih suka bertingkah aneh?”, tanya ku.

“Tenang saja! Gue bisa mengatasi gelagat Chicko, lama-lama pasti dia beneran cinta sama gue dan gue bisa korek semua info tentang rencana busuk di balik Hermes Café ini! Beruntung banget gue, kalo Chicko nggak keceplosan mungkin cerita bisa lain”

“Oh …”

“By the way, apakah akhir-akhir ini Hermes Café selalu ramai pengunjung? Selain elo ma Ikal tentunya?”

“Cukup ramai, kok! Pastinya ada segerombolan cewek yang berisiknya minta ditayangin di Dahsyat! Selain itu ada seorang ibu pns yang punya jadwal rutin nongkrong di HermesCafé!”, ujarku.

“Wells…Sesuai rencana!”

Tampaknya Tasya terlihat puas.

“Rencana yang mana?”, tanya ku penasaran.

“Gue yang meminta mereka untuk semakin meramaikan Hermes Café! Bahkan minggu depan gue akan meminta teman gue, si Ting-Ting bareng band-nya Blue Summer yang barusan ngeluarin album kedua untuk nge-jam bentar di Hermes Café di sela-sela jadwal promonya! FREE.”

“WOW!! Gue suka tuh lagu-lagunya Blue Summer, terutama Someday Baby!”

“Yaps … Pokoknya gue bertekad untuk membuat Hermes Café tetap bertahan dengan konsep lama nya karena bangunan yang dipake Hermes Café adalah bangunan bersejarah yang nggak boleh dipugar dengan seenak perut sendiri lalu diganti dengan bangunan modern yang menghilangkan semua bukti otentik sejarah masa lalu!”

Tasya terlihat berapi-api.

“SETUJU!! Apalagi elo ada ikatan bathin dengan bangunan itu, kan? Makanya elo bersemangat banget memperjuangkan kelangsungan bangunan Hermes Café tetap eksis!”

“Tau aja lo, Do! Gue sama Ibu Eni, PNS yang elo liat itu, sedang memperjuangkan Hermes Café sebagai salah satu daya tarik untuk merevitalisasi komplek kota tua itu agar Hermes Café dan bangunan-bangunan tua lainnya komplek tersebut bisa terlahir kembali sebagai salah satu ruang kreatif bagi anak muda!”

“Yeah! Kayak kota yang menjadi markas tim kesayangan gue, Liverpool, yang pernah hancur lalu sekarang bisa menjadi salah satu kota dengan daya tarik pusaka budaya-nya yang dibuktikan dengan pemberian gelar European Capital of Culture pada tahun 2008”.*

“Pinter juga lo, Do! Btw, gue mo syuting nih!”

“Bentar-bentar! Jadi lo kenal sama gerombolan berisik itu?”, aku nikung secepatnya sebelum telepon ditutup oleh Tasya

“Siapa? Luckty? Gue deketnya ma Luckty aja sih! Kalo dia sebentar lagi mo nikah. Eh … beneran nih. Off dulu ya! Ntar ditelepon lagi untuk perkembangannya!”

“Ok!”, jawabku dengan tak bersemangat.

AADDDDUUUHHH. MO NIKAHHHH?

Kemarin Luckty bukan ya namanya?

Kok aku bisa lupa sih namanya!! Wajahnya memang terbayang-bayang selalu, tapi mengapa aku bisa melupakan hal terpenting selain nomor hape, nama ortu, hobi, dan artis favorit ya!

DUH, gara-gara kemarin kenalannya keroyokan sih jadi lupa deh namanya!

OHHHH DITINGGAL KAWIIIIIIIIINNNN. TIDDDDDAAKKKKK!

==================================

Written By: Danang Saparudin (Dansapar)

Angel and Demon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: