HERMES CAFE #3: Menu of The Day, Cold Frappachino

Wi_Fi_Alaska_by_adriftphotography

Kubuka pintu Hermes Cafe dengan sejuta keinginan. Khususnya keinginan untuk melapas lelah. Aku sudah cukup pusing dengan segala yang terjadi kepadaku.

Aku langsung memilih meja yang menghadap ke arah jalanan. Belum sempat aku menarik nafas lega karena akhirnya bisa duduk, sebuah suara menyapaku.

“Selamat sore Mas, mau pesan apa?”

Seorang Waiter muda sudah berdiri dan memberikan daftar menu kehadapanku. Belum lama diriku memantau menu tersebut, waiter itu sudah berceloteh.

“Menu andalan kami kopi Jawa…”

Aku tidak begitu mendengarkan celotehannya yang berisi tentang kopi jawa, kopi sumatera, curah hujan, keasaman, kebasaan, kopi amerika, kopi brazil, ah entah apa lagi. Mataku malah terpaku kesalah satu kalimat menu yang mengingatkanku kepada dirinya. Cold Frappachino.

“Saya pesan Cold Frappachino”

“Ada lagi?”

“Tidak”

Waiter itu tetap berdiri disampingku.

“ya? ada apa?”

“Maaf mas. Itu tangannya, berdarah. Apa mau saya ambilkan kain basah basah atau tissu?”

Aku beralih menatap tangan kananku yang penuh darah dan hanya kubalut dengan sapu tangan gembelku.

Aku mengangguk pelan “Jika ada, tolong kain basah saja”

Waiter itu akhirnya meninggalkanku.

Kuhembuskan nafas pelan. Kuambil MP3 dari ranselku dan memasangnya di telingaku. Hari ini aku harus bisa melupakan sejenak. Melupakan pekerjaanku. Melupakan motorku yang selalu mogok tengah jalan. Melupakan berkas-berkas yang selalu menumpuk di meja kerjaku. Dan terpenting melupakan dirinya untuk sejenak. Sangat susah rasanya untuk bisa menghapus semua kenangan tentang dirinya. Dirinya yang sekarang menjadi pujaan semua orang. Seorang entertainer. Artis. AKu benci artis, tapi kenapa aku malah semakin mencintainya?

Lamunanku terpecah ketika segerombolan wanita muda memasuki Hermes Cafe. Enam wanita itu mengambil tempat tepat di hadapanku. Ah wanita! Mengapa mereka selalu saja ribut dimanapun dan kapanpun? Bisakah mereka jika datang kesuatu tempat tidak sambil tertawa cekikikan?

Pesananku datang. Cold Frappachino. Minuman kesukaan dirinya.

“chicko?”

Tiba-tiba salah seorang dari wanita itu menghampiri diriku. Aku kaget. Sama sekali tidak berharap untuk bisa bertemu dengan siapapun disini. Aku melepas MP3ku dan bangkit dari dudukku.

“Benar. Siapa ya?”

Wanita itu tersenyum lebih lebar “Gw Emmy, temennya Tasya. Waktu itu kita ketemu di Monas”

Aku menepuk dahiku. Aku mulai mengingat. Kujabat tangannya dan mengajaknya duduk dihadapanku.

“Sorry. Penerbangan ke Jakarta membuatku sedikit jetlag and lupa beberapa hal”

“Ga pa pa”

“Gmana kabar lo?”

“Baik”

“Itu sama temen-temen lo?”

Emmy menoleh sejenak dan melihat teman-temannya sedikit curi-curi pandang menatap kami berdua.

“Iya. Biasalah pertemuan kecil-kecilan bahas girl Talk”

Aku mengangguk pelan. Wanita. Selalu saja membagi kisah bahagia, sedih ataupun kecewa bersama-sama. Apa sebaiknya aku juga harus menemukan wanita baru untuk menghapus ingatanku terhadap dirinya.

“Lo mau gabung dengan kita?”

Aku tertawa pelan “Thanks. Gw lagi ada beberapa kerjaan yang musti gw kerjain”

“Ok kalo gitu. Gw ngga mau ganggu lo. Gw balik ke temen-temen gw ya”

Aku tersenyum dan mengangguk kepada wanita mungil itu. Langsung kukeluarkan laptop dari ranselku dan menyalakannya. Aku harus tampil sedikit sibuk, agar tidak terganggu oleh siapapun. Setidaknya hari ini.

***

“EMMY!!!” Desis Dudu alias Dwi ketika wanita mungil itu kembali lagi ke meja kami.

Emmy baru saja menyapa teman lamanya yang sedang berada di meja seberang kami duduk. Ia kembali dengan senyum penuh makna.

“Itu sapa? koq ngga dikenalin ke kita-kita?” cerocos Dudu

Emmy mengangkat bahu “Sorry di morry telah mengecewakan kalian. Dia lagi sibuk tuh”

Kami serempak menjawab “yaah”

Mengapa kami menjadi seperti kumpulan wanita kesepian seperti ini ya? Padahal beberapa diantara kami sudah mempunyai pasangan, meski pasangan belum terikat. Ku menatap kearah pria yang duduk dihadapan laptopnya itu.

“Emang dia sapa sih, Mi?” tanyaku penasaran

“Dia temennya Tasya. Yaaa salah satu penganggum berat TassY”

Kami semua mengangguk-angguk paham. Emmy duduk diantar diriku dan Asiah.

“Eh, udah pada mesen ya? Aku belum pesen nih. Aus”

“Kita udah pesenin lo koq. Seperti biasa Vanilla Latte bukan?”

“Wess!!! Bener!”

Tak berapa lama kemudian, pesanan kami pun datang. Semua langsung saja mengambil masing-masing gelas dan meminumnya.

“Nek, ini apa?” tanya Asiah sambil mendorong gelas tinggiku kehadapannya

“Cold Frappachino”

“Enak. Coba tadi gw pesen ini juga ya. tapi gw ngga suka kopi” ucapnya setelah mencoba minumanku

“Sama. Gw juga”

“Lah, kenapa pesen ginian?”

Aku menyeringai. Ingatanku terbang melayang ke beberapa tahun yang lalu, Ketika diriku hampir sempat menjadi calon nyonyah. Aku berharap bisa menemukan pria yang sama-sama menyukai Cold Frappachino seperti layaknya diriku. Entah angin apa yang menghembuskan pandanganku, mataku beralih ke teman Emmy yang masih sibuk dengan laptopnya.

Ah ternyata pria itu meminum Cold Frappachino juga.

“Eh iya, kemarin gimana hasil jalan-jalan ke monas?” ucap Astrid memecahkan lamunan singkatku

Aku menoleh dan menatap Asiah yang sedang memakai baju serba kuning hari ini. Berarti hari ini dia sedang sangat bahagia. Karena kuning adalah warna favoritnya dan akan ia pakai di waktu ketika ia bahagia.

“Iya, Asiah. Gimana hasil jampe-jampe dari tangannya Hermes?”

Asiah tersenyum penuh makna.

“Alhamdulilah, mulai kemarin aku sudah tidak jomblo lagi” ucapnya penuh malu

==================================

Written By : Astrid Dewi Zulkarnain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: