HERMES CAFE #6 : Everybody Loves Hermes

love_has_gone_away_from_me_by_nimgalad

“Sore mbak, mau pesan apa” cowok lumayan ganteng itu tersenyum. Wah si Alvin yg masih training itu dan juga Senior Pia di kampus.

“Kok tumben sendirian mb yang lain pada kemana neh?”tanya dia lagi.

“ Lagi pada sibuk mas” jawabku sambil tersenyum.

“Mau pesan apa mb? Seperti biasa ya?Hot Cappucino!”. Yakin sekali dia tanpa aku mengiyakan langsung mencatat di kertas ordernya.Tapi aku harus mengakui ingatannya sangat bagus.

“Oh….mas dah hapal ya, iya Hot Cappucino satu ya”
“ Siap mbak, ditunggu ya gak pakai lama kok mb”

“ Eh mas…”
“Ya mbak ada yg lain lagi”

“Panggilkan mbak Tiara ya, bilang Luckty sudah disini”
“Oh mb ini yang namanya Luckty ya kemaren ada titipan buat mbak tapi udah diambil sama Pia dunia sempit sekali ya mbak Pia itu adik angkatan saya lho di kampus”. Katanya panjang.

“Hah…masa seh mas” kataku sok-sok kaget padahal Pia udah cerita banyak bgt soal si Alvin yang selalu manggil dia Bakpia. “titipannya seh udah nyampe mas, makasih ya.
“he..he..he iya mbak” senyum lagi dia. Aduh Pia punya kok malah BT she sama dia harusnya senior ganteng gini digebet aja, harus dapet lebih banyak kursus lagi neh dia, adikku yang polos itu kadang memang suka nggak ngeh sama yang bening-bening. Busyet ini cowok kulitnya bening bgt seh jgn-jgn………..

“Oh mas seniornya ya, jangan dikerjain terus ya Pia mas kasian dia kan masih kecil bgt. Eh mas malah ngobrol kita tolong ya mbak Tiaranya saya buru-buru neh.”
“Mbak Tiara ya, oke mbak saya panggilkan”. Kini Alvin bergegas masuk ke area dalam café.

Hermes Café ramai seperti biasanya tempat favorit aku dan gank kecimpringanku dan juga tempat favoritku dan dia . Ku sapu pandangan ke sekeliling café ach…. Hermes nyaman sekali, Arsitektur Art Deconya kian hari kian menjadi klasik saja, unsur-unsur kayunya semakin menambah kehangatan Hermes. Eh..eh kok cowok itu disitu lagi dia mataku tertuju pada sesosok laki-laki yang sempat membuat anggota gankku rada-rada heboh, apa mau ketemuan lagi sama si kurus berbandana dan temannya yang Salesman itu. Hadoooh…jangan-jangan dia sama yang Salesman MLM lagi wah bisa gaswat neh males banget tar ditanyain lagi deh ma dia VCD testimoninya udah ditonton belum, gak tau deh kemana tu VCD. Aduh mbak Tiara mana seh lama banget.

“Ini pesanannya mb” Alvin meletakkan Hot Capucinoku di meja
“Thanks ya Alvin, bolehkan saya panggil Alvin” kini aku sok-sok akrab niat mau bantuin Pia.
“boleh banget dong mbak, oh ya mbak, mbak Tiara bilang suruh tunggu bentar ya mbak, baru online beliau.

“Oke Alvin” jawabku pendek
“ Alvin cowok itu mang sering banget kesini ya? Aku mengalihkan pandangan pada laki-laki di meja 21 itu.
“mana mbak, oh yang pemabuk kopi jawa itu, iya mbak hampir tiap hari, menunggu cinta katanya”

“Oh………” kali ini aku mengangguk-angguk. Lucu juga pikirku. Apa mungkin dia akan mendapatkan cintanya disini seperti aku dan Tasya kami telah menemukannya di Hermes café.

“Hallo Luckty! Maaf ya sudah menunggu agak lama”suara wanita yang sangat keibuan itu menyapa ramah sekali. Sesaat kemudian Alvin permisi padaku.

“ Eh mbak Tiara, gpp kok mbak saya suka bgt disini.”Ya aku suka sekali suasana sore di Hermes Café.

“Jadi gimana Luckty kemajuan pengajuan perpanjangan ijin kami? Mbak Tiara tampak sedikit cemas.
“ Aku sudah berusaha semampuku ya mbak termasuk sudah memohon dengan para pejabat Dinas Pariwisata, proses sudah berjalan tinggal tunggu SK saja.”

“Baguslah kalo gitu Luckty, eh ini artikel yang ditulis Galuh ya aku sudah baca seh di web”. Kini wanita keibuan itu sedikit sumringah.

“Iya mbak ini sengaja aku minta ke galuh supaya juga menjadi bahan petimbangan perpanjangan ijin Hermes mb Ti, kami bahu-membahu lho supaya Hermes bisa tetap diperpanjang ijinnya, lengkap sekali kan coba mbak lihat juga yang ini lampirannya ada penjelasan panjang lebar soal Art Deco yang ditulis Galuh ya kan dia lulusan Arsitektur jadi paham betul soal ini mbak.” Aku sodorkan beberapa lembar kertas padanya.

“Mbak Tiara karena Hermes termasuk dalam kategori B maka pengawasannya di serahkan pada masing-masing Kodya yang bukan wilayah saya tapi untung saja ya mbak saya punya banyak teman disana, kalo buat kebaikan nepotisme dibolehkan kok mbak”.

Hahahahahahaha…..kami berdua terkekeh

“Aku sebagai salah satu staff di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kadang miris bgt lho mbak kenapa ya sulit sekali menggugah masyarakat untuk lebih menjaga kelestarian warisan budaya seperti ini, tapi setidaknya Management Hermes, Miranda Gultom dan teman-teman telah memulainya, eh kami juga lho mbak kami biar masih muda justru mengambil Hermes sebagai tempat ngumpul bukan di mal-mal”

“Iya Luckty seharusnya memang tidak hanya diserahkan pada pemerintah tapi peran kita sebagai masyarakat harus lebih aktif ya. Semuanya bisa Luckty asal komitment tetap dijaga jangan sampai kecolongan lagi kan seperti yang di Menteng, aku heran ya Luckty apa karena pemiliknya petinggi Partai”.
** Plak**…kata-kata mbak Tiara barusan membuatku serasa ditampar. Oh kalo sudah begini mbak Tiara semakin terlihat bijaksana saja.

“Jujur saja mbak kami merasa kecolongan maka dari itu kami bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia sudah menerbitkan Panduan Pemugaran Bagunan khusus wilayah Menteng, ada tiga ribu rumah yang harus diawasi mbak” belum sempat Mbak Tiara berkomentar aku sudah berbicara lagi

“Hermes Mangement harus ingat juga ya mbak jangan sampai mengubah bagian depan Hermes itu melanggar mbak karena sekali lagi Hermes masuk golongan B.”

“Iya Luckty kami sangat paham itu.” Mbak Tiara mengangguk-angguk.
Sambil membaca dengan serius Mbak Tiara berujar. “Aduh aku lega Luckty terima-kasih ya”

“Ya mbak ini berkat kerjasama kita semua, semua yang mencintai hermes” aku tersenyum
“Bukan hanya mb Tiara dan semua staff disini, Tasya, Laki-laki itu dan semua pelanggan terutama aku dan teman-temanku itu cinta Hermes mbak. Apalagi aku mbak, ini kan tempat bersejarahku, aku menemukan cinta disini dan juga dilamar disini remember?

“Hahahahahah…aku ingat banget luckty bagaimana bisa lupa ya peristiwa lamaran kamu itu, how Luckty you are eh Lucky…”Tawa kami berderai ke seisi ruangan hingga membuat si Pemabuk Kopi Jawa itu menengok.

“Thanks to you and crew, Tasya, Chicko sang vokalis dan gank kecimpringan ya mbak”. Oh ya mbak undangannya sudah nyampe kan semua diundang lho mbak. Eh mbak aku minum dulu ya haus ni, kuambil cangkir capucinoku dan mendekatkan ke bibir.

“eh iya Luckty sampai dingin tuh”wanita itu sedikit tidak enak.

Sambil melihatku minum mbak Tiara kembali berujar.“Iya kami pasti datang, sayang sekali ya Luckty kamu tidak bisa pesta disini, terlalu sempit dan tidak akan bagus untuk Hermes”

“Yah mau gimana lagi mbak Ti kami ini kan sama-sama anak pertama jadi ya orangtua maunya mengundang banyak orang.”

Drrrt…drrt…drrrt….
Kuangkat Handphone sambil tersenyum “Pelangiku Calling”
“Assalamu’alaikum….oh sudah diluar?gak masuk dulu Yang…….aku lagi ketemu mbak Tiara neh….oh gitu ya, ya udah bentar lagi ya 2 menit lagi ok.”Kututup telponku

“Sudah dijemput ya?”tanya mbak Tiara
‘Iya mbak maaf ya kami harus fitting lagi kemaren masih kegedean”. Aku merapikan berkas-berkas yang tadi aku bawa.
“Mbak ini copiannya satu untuk mbak Tiara, aku juga pegang satu, ok ya mbak kalau ada apa-apa lagi telpon aja ya. Satu lagi mbak salam untuk Mbak Eni ya semoga Hermesnya tambah ramai dan bisa terus menjadi sumber rejeki yah. Aku serahkan Map putih itu ke Mbak Tiara.

“ Siiiip…. Makasih bgt ya Luckty” Mbak Tiara menjabat tanganku dan kami cipika-cipiki.

“Sama-sama mb Ti…semua untuk Hermes kok, Hermes kita semua. Dah mb Ti, berdoa yang banyak ya”. Aku melambaikan tangan padanya.

Tiga langkah setelahnya “Ehhh mb Ti?aku berbalik…….

“Ada yang ketinggalan Luckty?” mbak Tiara menengok sambil berjalan menuju ke arahku.

“Enggak mbak Cuma………..ah sudahlah belum saatnya mungkin mbak Ti”.

“Apa seh Luckty” mbak Tiara pensaran..
‘Gak, jadi Mb Ti, Bye………..semangat ya Mb Ti.” Aku segera menuju pintu Hermes dan berlalu meninggalkan Mbak Tiara yang terbengong-bengong.

Aku langkahkan kaki menuju Honda New City warna merah yang sangat kukenal itu disana Pelangiku telah menunggu, aku tersenyum dalam hatiku masih saja memikirkan laki-laki pemabuk kopi itu ah kasian sekali dia, seharusnya laki-laki berlari mengejar cintanya bukan menunggu, berlari mengejar dan menjemput cinta itu sangat seksi. Dan Alvin…..pia-pia payah deh dia.

==================================

Written By :  Eni Setyaningsih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: