HERMES CAFE #7 : Metamorfosa

bxp69822

Email dari mantan suamiku memang selalu membuat aku membayang kembali apa yang sudah sepuluh tahun ini, bersama, kami jelajahi. Kami menulis tentang kami. Dia tentangku dan aku tentangnya. Berbalas setiap hari.

tok..tok..tok..

“Yah?siapa?”
Aku tersentak oleh ketukan pintu itu. Aku melihat jam, ternyata sudah dua jam aku termangu di depan laptopku.

“Alvin Mba!”
“Oh masuk Vin, ada apa?”
“Ada Mba Luckty di luar, katanya mau bertemu Mba!”
“Oh iya, mmmhhh, sebentar lagi saya kesana. Thx Vin.”

Aku menutup laptopku dan imaji tentang mantan suamiku. Oiya, aku sengaja memerintahkan semua karyawan memanggilku dengan sebutan Mba. Selain supaya aku tetap terlihat muda, panggilan tersebut juga membuat kami bisa lebih akrab.

Ku bereskan sedikit sasakan rambutku. Hari ini tidak sempat ke salon. Bagaimana mungkin, ketika ijin perpanjangan kafe ini belum ada hasilnya. Bisa gagal semua rencanaku selama ini.

Ah aku jadi benci Kartini. Dia yang salah, membuatku seharian berkutat dengan bisnis kafe ini. Dia yang akhirnya membuat aku merasa harus bergerak sendiri, alih-alih pergi ke salon dan arisan dengan uang tunjangan mantan suami. Dia juga yang membuat aku merasa punya harga diri untuk tidak memilih sekedar menjadi istri simpanan pejabat tinggi. Padahal dengan kecantikanku ini, sasakan tinggi, aroma wangi, badan sintal, tak kalah dengan istri-istri mereka yang sudah kisut berkeriput.

Dan kafe ini. Dengan segala keribetan ijin-ijinnya, membuat aku muak. Padahal pendirian kafe ini hanya alibi, mempermudah ijin, sehingga beberapa tahun lagi bisa kuubah menjadi salah satu club malam. Seperti yang terjadi pada bekas gedung imigrasi.

Sengaja aku menjual kopi jawa sebagai menu andalan. Agar kafe ini tak ramai dikunjungi. Seperti gerai-gerai kopi dari luar negeri. Bukankah semua penduduk kota ini sedang gandrung kopi lingkaran hijau itu. Tapi ternyata aku salah strategi. Justru kafe ini ramai dikunjungi. Bahkan ada banyak sekali pelanggan tetap. Bukan hanya orang-orang biasa seperti segerombol gadis yang menyebut diri mereka geng ketimpring, tapi juga para kerabat pejabat seperti ibu Eni Yudhoyono beserta anak dan menantunya.

Aku bingung kenapa mereka semua menyukai tempat ini. Aku saja masih sering bersin-bersin karena menghirup udara yang rasanya tidak berganti sejak puluhan tahun yang lalu gedung ini berdiri. Ditambah benda-benda kuno membuat aku alergi. Tempatnya juga tidak terlalu dekat dengan pusat kota.

Sepertinya memang tempat ini dilindungi. Patung hermes di tengah ruangan itulah yang menjaga kafe ini tetap ada. Bahkan ketika kuterima alvin sebagai trainee, aku baru tahu bahwa dia sebenarnya penyuka benda-benda tua, bahkan lebih dari kulitnya sendiri.

Okey tiara, kamu harus terlihat baik di depan Luckty. Kataku dalam hati.

“Hallo Luckty! Maaf ya sudah menunggu agak lama” sepertinya sudah cukup ramah.

Luckty menjelaskan tentang proses perijinan yang sudah ia lakukan.

“Mbak Tiara karena Hermes termasuk dalam kategori B maka pengawasannya di serahkan pada masing-masing Kodya yang bukan wilayah saya tapi untung saja ya mbak saya punya banyak teman disana, kalo buat kebaikan nepotisme dibolehkan kok mbak”.

Hahahahaha. Aku tertawa. Tentu saja. Karena itulah aku suka tinggal di negara ini.

“Iya Luckty seharusnya memang tidak hanya diserahkan pada pemerintah tapi peran kita sebagai masyarakat harus lebih aktif ya. Semuanya bisa Luckty asal komitment tetap dijaga jangan sampai kecolongan lagi kan seperti yang di Menteng, aku heran ya Luckty apa karena pemiliknya petinggi Partai”. Wow, aku kaget sendiri mendengar apa yang sedang aku bicarakan. Sepertinya berhasil membuat Luckty terkesan.

“Hermes Mangement harus ingat juga ya mbak jangan sampai mengubah bagian depan Hermes itu melanggar mbak karena sekali lagi Hermes masuk golongan B.” Tenang saja Luckty, justru itu yang akan aku pertahankan untuk menciptakan suasana lantai dansa seperti beberapa ratus tahun yang lalu.

“Iya Luckty kami sangat paham itu. Aduh aku lega Luckty terima-kasih ya”

“Ya mbak ini berkat kerjasama kita semua, semua yang mencintai hermes” dia tersenyum.

“Thanks to you and crew, Tasya, Chicko sang vokalis dan gank kecimpringan ya mbak. Oh ya mbak undangannya sudah nyampe kan semua diundang lho mbak. Eh mbak aku minum dulu ya haus ni” kata Luckty menambahkan.

“eh iya Luckty sampai dingin tuh” bayanganku tentang metamorfosa kafe ini membuat aku lupa diri.

Drrrt…drrt…drrrt….

Luckty mengankat Handphonenya sambil tersenyum.
“Assalamu’alaikum….oh sudah diluar?gak masuk dulu Yang…….aku lagi ketemu mbak Tiara neh….oh gitu ya, ya udah bentar lagi ya 2 menit lagi ok.”

“Sudah dijemput ya?”tanyaku lega. Akhirnya ia pergi juga.

‘Iya mbak maaf ya kami harus fitting lagi kemaren masih kegedean. Mbak ini copiannya satu untuk mbak Tiara, aku juga pegang satu, ok ya mbak kalau ada apa-apa lagi telpon aja ya. Satu lagi mbak salam untuk Mbak Eni ya semoga Hermesnya tambah ramai dan bisa terus menjadi sumber rejeki yah.”

“ Siiiip…. Makasih bgt ya Luckty” aku meraih tangannya dan cipika-cipiki. Tahu kan bahwa tidak ada alasan bagi dia untuk tetap tinggal setelah melakukan ritual perpisahan itu.

“Sama-sama mb Ti…semua untuk Hermes kok, Hermes kita semua. Dah mb Ti, berdoa yang banyak ya”.

Ia melambaikan tangan padaku.

Ah akhirnya. Sebentar lagi, perlahan-lahan hermes cafe akan bermetamorfosa menjadi hermes club, lounge, bar, winehouse, ah nanti akan kutentukan lagi.

Tiga langkah setelahnya.

“Ehhh mb Ti?” Ia berbalik. Eh ada apa ini.

“Ada yang ketinggalan Luckty?” Aku menengok sambil berjalan menuju ke arahnya.

“Enggak mbak Cuma………..ah sudahlah belum saatnya mungkin mbak Ti”.

“Apa seh Luckty” aku penasaran. Jangan-jangan dia mencium gelagatku.

“Gak, jadi Mb Ti, Bye………..semangat ya Mb Ti.”

Dia meninggalkanku di pintu hermes. Ada apa yah. Seingatku aku belum pernah menceritakan rencanaku pada siapapun, kecuali….ah tidak mungkin dia menceritakannya pada Luckty. Lagipula mereka tidak saling kenal. Ah sudahlah. Mungkin perasaanku saja.

aku harus meminimalisasi penggunaan kekerasan dalam rencanaku ini. Cukup seorang kepercayaanku yang terluka.

==================================

By : Asyharul Fityan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: