HERMES CAFE #8: ALONE IS COOL!

4d2076e66e364cfbbee1a8aa71fbe265

Kriiiiiiiiiiiiiiiiinnnngg…

Jam weker antikku berbunyi, aku terbangun. Memang ini hari Minggu, biasanya aku selalu bangun diatas jam satu siang dari tidurku pada jam lima pagi. Tapi kali ini lain, aku ada janji dengan temanku di café, Dedo pasti sudah menunggu, dia memang selalu datang tepat waktu, tak seperti temanku lainnya, dia tak pernah terlambat untuk sebuah janji.

Setelah mengumpulkan segenap kesadaran, aku beranjak mandi. Kali ini kamar mandi sepi, anak-anak kost engkong barangkali sudah jalan entah kemana. Ini yang membuatku jengkel setiap melewati hari bernama Minggu, tak ada gadis-gadis ranum atau minimal janda yang bisa ku goda, mereka masing-masing pergi dengan pejantannya sendiri-sendiri.

Setelah berpakaian dan menyemprot sedikit parfume Gatsby, tak lupa aku ikatkan bandana di kepalaku, gaya andalanku semenjak aku mengagumi Bodhi, tokoh spirituil di novel karangan Dee: Supernova.

Maka seperti anak kost lainnya, meskipun kamar kost ini adalah milik engkongku, aku makan di luar setiap harinya. Hasilnya, uang receh dalam kaleng biskuit Khong Guan –atau yang ku sebut celengan– ku, berjubal. Dan biasanya ku habiskan untuk memberi pengamen, atau ku berikan sebagai tip di café langgananku: Hermes Café.

Jarum jam menunjuk angka duabelas, janji dengan Dedo dan Dan Sapar tepat jam makan siang. Aku segera melangkah keluar. Jalan kaki saja karena dekat, tak sejepretan tali beha kata temanku, Dedo. Selain itu, jalan kaki itu sehat untuk sendiri dan juga sehat buat orang lain karena tak melahirkan polusi.

***

Baru mau ku telepon, Dan Sapar menjumpaiku di trotoar menuju café. Kamipun berjalan bersama, antusias sekali, sebab hari ini adalah hari dimana aku akan berkenalan atau tepatnya diperkenalkan dengan perempuan-perempuan yang sering aku jumpai di café itu. Perempuan yang sering menggoda temanku, Dedo. Ya, sering menggoda –mungkin lebih tepat mengganggu– hingga akhirnya mereka berkenalan satu sama lain.

Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan seorang ibu muda yang ku tebak pasti akan ke café. Ibu Eni Yudhoyono namanya, aku kenal betul, dia tetanggaku. PNS di salah satu instansi Pemda DKI. Hampir setiap hari dia menghabiskan waktu di café hanya untuk menikmati wi-fi connection dengan cuma memesan segelas lemon tea. Di hari biasa, di jam kerja pun, tak pernah absen dia dari café ini, berjam-jam pula. Begitulah dia, sering mangkir di hari kerja, irit pula di café. Benar-benar PNS, pegawai nan sialan, curang setelah menjabat. Tidak peduli dibelakang pengangguran masih banyak yang mengantri untuk sebuah pekerjaan.

Sesampainya di café, kami menemukan Dedo di sudut sana, sendiri, seperti biasanya. Dimanapun engkau duduk, selalu nikmati meja dan bangkumu, satu ketika cinta akan datang menyapamu, begitu prinsip hidupnya. ‘Sendiri itu keren’, itu kata kebanggaannya, dan aku maklum mengingat dia tak pernah merasakan kerennya berpacaran, setidaknya lebih keren daripada sendiri. Sendiri itu melankolis.

“Woi, sob. Udah lama lo?” sapaku padanya.

“Baru aja mau nambah gelas ke lima. Anjrut lo ya, janji jam berapa?? Telat setengah jam lo..”

“Sori, Danang aja bareng sama gue, berarti nggak telat dong, lo-nya aja yang kecepetan..”

“Gue janji kan cuma sama lo, bukan sama si.. Siapa ini namanya?”

“Dan Sapar, Do,” Dan Sapar menimpali, “Panggil aja Danang! Baru aja berapa hari, udah lupa aja lo.”

“Iya sori, haha.. Gue cuma ngetes kesabaran lo aja.” Dedo nyengir, “Oke, guys! Langsung aja apa gimana neh? Tuh cewek-cewek lagi pada ngumpul tuh, entar gue kenalin sama kalian.”

“Entar dulu. Gue ngopi dulu bentar, ngerokok lah, pahit neh mulut, dari tadi belum kemasukkan apa-apa..”

Alvin, si waiter trainee itu mendekati kami.

“Selamat siang, mas. Seperti biasa? Kopi Jawa kental dengan sedikit gula?”

Si trainee itu sudah hafal minuman favoritku ternyata. Aku mengangguk.

“Kalo mas yang satunya apa?”

“Gue ice lemon tea aja.” jawab Danang.

“Oke, tunggu sebentar ya!?”

“Tunggu!” Dedo menyela kepada si trainee itu.

“Ya, mas?”

“Kasih ini ke cewek-cewek itu!” kata Dedo sambil memberi selembar kertas.

“Yang mana, mas?”

“Itu, yang ngumpul bertujuh itu, yang paling berisik itu.”

“Nggak. Maksudnya ini dikasih ke mbak yang mana?”

“Terserah, siapa aja.” kata Dedo sambil menyeringai licik. Ku tebak pasti sedang menjalankan misi yang culas.

Si trainee pun menjalankan perintah, sesaat Dedo langsung pergi ke toilet, terpaksa aku merogoh kantungku untuk mencari limaribuan rupiah untuk tip.

Tak berapa lama, Asyharul, si Djawa biasa kami panggil, teman kami datang. Aku memang mengundangnya untuk rame-rame berkenalan dengan perempuan-perempuan itu.

“Halo, Kal! Udah lama kalian? Dedo mana?”

“Woi, sob. Baru koq. Dedo lagi ke toilet. O ya kenalin temen gue, Danang.”

“Danang!” Asyharul dan Dan Sapar saling menjabat tangan.

“Asyharul! Panggil Djawa aja kalo ribet pake nama asli.” kata Djawa.

Drrrrrrttt.. Drrrrrrttt..

Handphone Dedo bergetar diikuti sebuah ringtone:

Pengumuman, pengumuman! Siapa yang punya anak tolong bantu, aku yang sedang malu..

..♫..♫..♫..

Si Djawa berinisiatif mengangkat;

“Halo!”

“Halo!? Siapa ini ya?” suara dari handphone, suara seorang perempuan.

“Eh, maaf.. Temennya Dedo ya? Dedonya lagi nggak ada, bentar lagi telpon lagi ya?”

“Dedo siapa?”

“Lhah, ini yang nelpon koq malah nanya?”

Dengan jelas aku mendengar dialog Djawa versus suara dari seberang telepon.

“Eh sori ya, mas. Saya baru dapat sebuah kertas untuk menelepon nomer anda. Jadi anda yang harus menjelaskan!”

“Saya nggak tahu dengan apa yang baru anda katakan.”

“Begini. Anda memberikan sebuah kertas, sebuah perintah untuk menghubungi nomer telepon yang sedang anda angkat ini…”

“Matikan!” kataku pada Djawa, diapun mematikan teleponnya. “Gue susul Dedo. Tunggu bentar.”

Dia pikir aku tak curiga dengan akal bulusnya. Perkenalan.. Bah! Perkenalan apa? Sendirinya lari ke toilet setelah ngasih kertas ke waiter, lalu ninggalin handphone, haha.. Semprul betul dia.

Ku temui Dedo di toilet sedang mengaca, mengaca yang tidak penting sepertinya. Hanya untuk mengulur waktu saja.

“Do! Taik babi lo! Ngenalin ngenalin pale lu peyang. Lo pikir gue nggak tahu apah akal-akalan lo?” aku membentaknya, sesekali persahabatan mesti diwarnai dengan kemarahan.

“Hahaha.. Gimana? Udah kenalan?” dia seolah-olah tak bersalah.

“Taik lo! Gue pikir lo udah kenal, anjrut lo!”

“Gue emang udah tahu mereka, Asiah, Emmy, Galuh, Dudu, ehh.. Siapa lagi ya? Astrid trus.. Pia tuh yang paling kecil. O ya satu lagi, Luckty, kakaknya Pia.”

“Trus kenapa lo kabur?”

“Sori, bradder. Lo pikir gue ngenal mereka? Gue juga tahu nama-nama mereka dari Menur, barista café ini.” katanya sambil nyengir kuda.

“Kampret lo, si Djawa yang berantem di telepon tadi.”

“Djawa udah dateng? Baguslah, perkenalan yang seru bukan?”

“Seru apanya? Ngehe lo! Ayo tanggung jawab!”

Sekembalinya dari toilet, kami menjumpai Djawa dan Danang sedang mengobrol dengan seorang temannya, seorang lelaki dan juga tujuh perempuan kecimpring itu.

“Nah ini orangnya!” kata Djawa.

“Ada apa ya?” sapa Dedo dengan muka polos, atau lebih tepatnya sengaja dipolos-poloskan, sengak benar.

“Shit! Pura-pura lagi, ini nih yang punya nomer handphone itu..”

“Wa! Lo ah..”

“Haha, apa lo? Nggak bisa ngeles lo.” Djawa dan Dedo saling menimpali.

“Oh, jadi ini orangnya.. ” ejek salah satu perempuan itu, perempuan yang berkerudung, yang nanti setelah berkenalan akan ku ketahui namanya: Galuh.

Dedo cuma senyam-senyum dengan wajahnya yang semakin memerah lantaran malu.

“Lo semua, pada tau nggak? Ini tuh temen-temen gue,” kata Djawa pada kami, aku dan Dedo, “Yang ini Galuh, yang barusan berantem di telepon sama gue gara-gara lo. Ini Pia, ini Luckty, ini Dwi atau biasa dipanggil Dudu, Ini Emmy, ini Astrid temen kuliah gue. Dan yang paling spesial: Asiah, temen gue juga, cuma pake spesial, hahaha..” Djawa memperkenalkan teman-temannya, Dedo dibuat malu benar hari ini, rencana memperkenalkan malah menjadi diperkenalkan, “O ya ini temen gue juga, Chicko. Anak band. Cuman masih indie.”

Kami menjabat tangan mereka satu-persatu. Lalu ketika tiba berjabat tangan dengan Chicko, dia kesakitan.

“Aww!!”

“Eh sori, kenapa?” tanya Dedo.

“Kena botol tuh, berantem sama sopir katanya..” Djawa yang menjawab.

“Oooh, sori.. O ya, siapa nama lo tadi?”

“Chicko! Chicko Handoyo, panggil Chicko aja!”

“Chicko Handoyo? Kayak gue familiar deh sama nama lo..” lagi-lagi Dedo sok kenal, semprul, “Lo pacarnya Tasya ya?”

“Iya, lo koq kenal?”

“Gue temennya. Doi sering curhat tentang lo, haha.. Dunia ini sempit bukan?”

Kali ini memang benar-benar kenal, bukan sok kenal.

“Lo siapa tadi?” tanya Chicko kepadaku.

“Faizal! Panggil Ikal aja…”

“KURA!” kata ibu Eni Yudhoyono setengah teriak sambil menatap layar laptopnya. Dia duduk persis berdampingan dengan meja kami.

“Bu.. Plis deh..” aku memelas.

“Apaan, Kal? Aku lagi chating sama temenku..” begitu alasannya, “Nih kalo kamu nggak percaya!” dia menunjukkan layar laptopnya yang sedang menampilkan akun Facebook, sebuah profil terpampang di sana.

“Itu kan Tasya?” Dedo menebak.

“Tasya?” Chicko merespon, “Wah, iya itu Tasya. Ibu kenal?”

“Ini temenku, semacam duta yang sengaja aku posisikan di café ini buat menjaga aset bangunan ini. Dia artis yang sadar sejarah lhoh?” kata ibu Eni Yudhoyono bangga.

“Aku tahu lah, bu. Wong aku ini pacarnya..” kata Chicko.

“Ohhh pacarnya?? Maaf, maaf, aku nggak tahu sebelumnya.”

“Oh, ini ibu Eni dari Dinas Pariwisata bukan?” tanya Luckty, salah satu perempuan bagian dari kecimpring itu.

“Iyya. Kamu..” dia mengingat-ingat sesuatu.

“Saya Luckty, bu. Saya yang kemarin datang ke kantor ibu untuk membicarakan tentang perijinan café ini. Tunggu sebentar! Saya panggil Mbak Tiara dulu ya?” kata Luckty.

“Alviiiin!” teriak Luckty. Si waiter trainee yang kemayu itu mendatangi kami sambil membawa pesanan minumku tadi, “Tolong panggilin Mbak Tiara ya?”

Alvin pun sigap menunaikan perintah. Dan mereka masih mengobrol kesana-kemari, bla-bla-bla.. Cekakak-cekikik, berisik.

***

Aku mengenal Dedo, dia temannya Tasya. Aku baru saja mengenal Chicko, temannya Djawa, dan ternyata Chicko pacarnya Tasya. Tasya kenal ibu Eni. Ibu Eni kenal Mbak Tiara, manager café ini. Aku kenal Djawa, dia temannya kecimpring sialan ini, bahkan salah satu adalah pacarnya, atau teman spesialnya. Luckty, salah satu kecimpring berisik itu kenal ibu Eni juga. Pia, adiknya Luckty, mengatakan kalau dia kenal Alvin, waiter trainee. Aku kenal Dan Sapar lalu ah.. Dunia ini sungguh sempit, perkenalan-perkenalan ini sungguh menjadikan dunia benar-benar sempit, dan aneh. Ya, aneh, tentu saja, sebab orang-orang ini aneh. Dan semakin menjadi sempit karena kali ini kepalaku migrain. Migrain yang aneh..

Lalu kemudian, tiba-tiba, tiba-tiba saja aku setuju dengan pepatah Dedo, sendiri itu keren. Atau jika dalam bahasa Inggrisnya: Alone is cool (sendirian pasti dingin)!

==================================

Written By : Dedo Dpassdpe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: